Rabu, 20 Agustus 2014

Cerpen Revolusi



     Alkisah diceritakan ada sebuah desa yang bernama desa jatiasri,terdapat di bantaran sebuah kali,yaitu kali Ciliwung. “hey ,siapa kamu? Berani berani nya membuang sampah di kali ini.” Teriak Pak lurah yang sedang mengelilingi kampung.’’ Loh,terserah saya dong pak. Apa urusan bapak berani melarang saya’’ sahut Rudi. ‘hey,kamu tau gak? Dengan kamu membuang sampah di kali seperti ini,kamu sedikit banyak berperan andil dalam terjadinya banjir akhir-akhir ini’’ Jawab pak lurah. “emang gw pikirin’ tukas Pak Rudi yang sambil berjalan meninggalkan pak lurah. “Astaghfirullah,masih ada orang seperti itu ya” batin pak lurah sambil mengelus-elu dadanya. Ya,memang rudi sangat terkenal di kampung itu karena sering membuang sampah sembarangan di kali ciliwung. Wajar saja,karena dia adalah seorang pedagang mie ayam di pasar,sehingga sering sekali membuang sampah di kali tersebut. Setiap Pak Rudi diperingatkan oleh warga selalu beralasan saja, mulai dari alasan banyak temenya lah,sudah biasa lah,gak peduli lah, hingga warga sekitar bosan melihat tingkah lakunya. Pada suatu malam di rumah pak rudi dalam suasana hujan deras. Yak,hujan ini memang terjadi sehari penuh. “Dingin ya bu,udaranya” omong rudi pada istrinya. Iya pak dingin sekali,yaudah tidur aja yuk pak’’.  “ayo’ jawab pak Rudi. Keduanya pun tidur hingga lelap. Jam pun akhirnya menunjukan pukul 3 pagi,tiba- tiba pak rudi terbangun dari tidurnya dan kaget buka main karena air sudah membasahi rumah mereka hingga ketinggian lutut orang dewasa. Pak Rudi bergegas menyelamatkan keluarga nya dan langsung keluar dari rumah. “ ayo cepat buk,nak, keburu air meninggi’’ teriak Pak Rudi. Kemudian mereka akhirnya mendapat bantuan dari tim SAR menuju tempat pengungsian. Di pengungsian Pak Rudi selalu menangis karena dia merasa bersalah atas apa yang di lakukan selama ini sehingga merugika dia sendiri dan orang lain.’’(sambil menangis) Aku sangat menyesal buk,terhadap apa yang selama ini aku buat. Aku sering membuang sampah di kali ciliwung sehingga menyebabkan banjir seperti ini.’’. “sudah pak,yang lalu gak usah disesali,sekarang tinggal bagaimana bapak mengubah tingkah laku bapak,supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi pada kita dan merugikan orang lain juga”.  Seminggu pun berlalu,rumah Pak Rudi dan para tetangganya pun sudah bersih dari banjir. Kini pun Pak Rudi sudah taat membuang sampah pada tempatnya. Ia tidak ingin hal yang dulu menimpanya  terjadi lagi pada dirinya dan keluarganya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar